daftar isi

Kamis, 23 Juni 2011

Perbesar Payudara dengan Implan Ternyata Aman?

Jakarta - Cukup beralasan mengapa sebagian perempuan ingin memperbesar keindahan payudara dengan menggunakan implan silikon. Ditengarai aman?

Badan Pengawasa Obat dan Makanan Amerika Serikat (Food ang Drug Administration/FDA) menyatakan, implan silikon untuk payudara relatif aman, meski komplikasi masih tetap dialami sehingga implan mereka harus diangkat dalam periode 10 tahun.

Hal senada juga dikemukakan Dr. Spesialis Bedah Plastik Teuku Adi Fitrian atau yang lebih dikenal dengan Tompi, bahwa prosedur pembesaran payudara bisa dilakukan dengan bedah plastik, medical implant, transfer lemak, juga suntikan silikon cair.

Sementara, metode membesarkan payudara yang aman adalah melalui implan, yaitu silikon berisi gel atau larutan garam.

"Jangan salah mengartikan antara suntik silikon dengan implan payudara. Cara pengerjaannya cukup berbeda. Dan sebaliknya, risiko suntik silikon lebih besar karena dapat mengakibatkan peradangan, bahkan tumor pada payudaranya," tambah dr Tompi.

Berdasarkan penelitian, ditemukan efek samping yang paling sering dialami pasien implan, yakni jaringan parut di sekitar implan serta bentuk payudara bengkok. Masalah lain adalah implan pecah, mengerut, serta payudara besar sebelah.

"Meski sering terjadi komplikasi, tetapi manfaat dan risiko implan payudara biasanya sudah diketahui oleh calon pasien dan menjadi pertimbangan mereka sebelum melakukan operasi," tulis FDA dalam laporannya.

Pernyataan bahwa implan aman sebagian besar berasal dari riset yang dilakukan oleh dua produsen implan, yakni Allergan Inc dan Johnson & Johnson's Mentor Unit. Meski begitu, penelitian itu belum lengkap dan banyak subyek penelitian yang tidak mengikuti studi ini sampai selesai.

Misalnya saja, hanya 58% wanita dari 1.000 pasien yang mengikuti studi sampai selesai yakni selama 10 tahun. Dua studi berskala besar lain yang melibatkan 40.000 wanita juga kehilangan sebagian besar pasien pada tahun kedua dan ketiga penelitian.

"Begitu produk medis sudah mendapat izin, para produsen merasa tak punya kewajiban melakukan penelitian dengan tuntas. Demikian juga yang terjadi pada penelitian mengenai implan payudara ini," kata Dr. Diana Zuckerman dari National Research Center for Women and Families.

FDA mengatakan, para produsen implan itu telah mengomunikasikan kesulitan mereka dalam mengikuti para pasien hingga studi selesai.

Berdasarkan data produsen, FDA menyebutkan sekitar 20-40% pasien yang melakukan prosedur implan untuk alasan kosmetik akan membutuhkan operasi tambahan untuk memodifikasi atau mengangkat implan itu dalam periode 8-10 tahun pasca pemasangan implan.Pada wanita yang melakukan rekontruksi payudara, angkanya lebih tinggi lagi yakni antara 40-70%.

Laporan yang dirilis oleh FDA itu merupakan hasil pengujian pertama badan itu terhadap implan payudara sejak badan berwenang mengizinkan penggunaan implan pada 2006. [mor]

sumber

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Wordpress Templates | Bloggerized by Free Blogger Templates | Web Hosting Comparisons